Monday, August 11, 2008
Kuliner Sunda, Warisan Budaya Sunda yang Tak Lekang Oleh Waktu

Ketika kesenian tradisional semacam calung atau gondang semakin dilupakan orang karena terdesak oleh kebudayaan asing yang menyilaukan mata, masih ada satu warisan kebudayaan Sunda yang tetap menarik untuk dinikmati: kulinernya. Bahkan kuliner Sunda sampai saat ini masih menjadi faktor penarik wisatawan dari daerah lain. Masakan Sunda selalu diburu oleh para penikmat wisata kuliner. Sebut saja nasi timbel, tutug oncom, karedok, ulukuteuk leunca, dan masih banyak lagi. Untuk makanan ringan dan minuman juga ada banyak pilihan, di antaranya surabi, comro, bandrek, dan bajigur.

Cita rasa masakan Sunda pada umumnya adalah gurih, tapi rasanya tidak terlalu tajam. Tidak terlalu manis seperti masakan Jawa, dan tidak bersantan seperti masakan Melayu. “Yang membuat masakan Sunda khas adalah perpaduan bumbunya,” kata Adang S., Pupuhu Caraka Sundanologi, yayasan yang bergerak dalam pelestarian kebudayaan Sunda. Bumbu yang digunakan tidak macam-macam, dan semuanya alami.

Yang harus ada dalam masakan Sunda adalah lalapan. Hampir sama dengan salad pada makanan barat, lalapan terdiri dari berbagai sayuran mentah, biasanya selada, kacang panjang, timun, tomat, daun pepaya, daun singkong, dan kemangi. Lalapan akan terasa lebih nikmat jika disantap bersama ‘pasangannya’, yaitu sambal yang pedasnya bisa membangkitkan selera makan. Menurut Adang, di Sunda dikenal tiga jenis sambal, yaitu sambal terasi, sambal oncom, dan sambal muncang yang menggunakan kemiri sebagai bumbu. Masakan Sunda tanpa lalapan dan sambal kurang lengkap rasanya.

Salah satu kuliner Sunda yang paling populer adalah nasi timbel. Ini adalah nasi yang dipulenkan dan dibungkus daun pisang, sehingga aromanya berbeda dengan nasi biasa, lebih menggoda. Nasi sengaja dipulenkan terkait dengan tradisi makan di Sunda dulu, yaitu menggunakan tangan langsung. Biasanya disantap bersama ayam atau ikan (dapat digoreng maupun dibakar), tahu, tempe, ikan asin, dan tentu saja lalapan dan sambal. Bisa juga ditambah sayur asem. Jika disantap selagi nasi masih panas dipadu dengan pedasnya sambal, rasanya sungguh memanjakan lidah. Dulu, bentuk nasi timbel bukan hanya lonjong seperti yang kita kenal sekarang, tapi juga kerucut seperti nasi tumpeng. Karena membuatnya cukup sulit, nasi timbel berbentuk kerucut ini sekarang sudah jarang ditemukan.

Dari dulu, Sunda memang identik dengan makanan. “Dulu anak gadis yang mau menikah disuruh bikin sambal dulu sama calon mertuanya. Kalau sambal buatannya enak, berarti dia bisa diterima,” kisah Adang. “Itu jadi motivasi buat orang Sunda supaya bisa masak enak.” Budaya menyantap lalapan pun datang dari kebiasaan orang Sunda yang gemar bercocok tanam. “Makanya orang Sunda yang di kampung sehat-sehat, lalapan kan mengandung banyak vitamin,” kisah Adang lagi. Penelitian memang menunjukkan, jenis-jenis tanaman yang digunakan dalam masakan Sunda termasuk dalam jenis tanaman obat alternatif untuk berbagai penyakit seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, diabetes melitus atau kencing manis, penyakit hati, asma, dan rematik.

Hingga kini, makanan Sunda masih digemari. Bukan hanya oleh orang Sunda asli, tapi juga oleh selain orang Sunda. Di Jawa Barat maupun daerah lain, rumah makan Sunda menjamur di mana-mana, dari kaki lima yang sederhana sampai yang tempatnya berpendingin ruangan. Di mall-mall pun, makanan Sunda bersanding dengan steak atau makanan Jepang, tak kalah bersaing. Makakan Sunda dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman, misalnya surabi yang dulu cuma berisi oncom sekarang rasanya bervariasi: coklat, stroberi, vanila, keju, susu, dan lain-lain. Pantas saja kuliner Sunda terus digemari. Raos pisan euy!

Labels:

 
posted by Adisti Dini Indreswari at 5:57 PM | Permalink | 0 comments
Tuesday, April 29, 2008
Press Conference Koenjit
Kami percaya, perjalanan bukan sekedar cara untuk mencapai suatu akhir, tapi ada suatu proses yang terjadi di dalamnya. Ada suatu pengalaman yang dapat memperkaya diri. Lewat koenjit, kami mencoba mengajak anda untuk mengikuti sebuah perjalanan rasa. Kami akan mengajak anda berjalan-jalan di Bandung –yang sering disebut-sebut sebagai surganya wisata kuliner- untuk menambah pengalaman rasa anda.

Mengapa koenjit? Nama ini sengaja kami pilih karena kunyit (Curcuma longa Linn. atau Curcuma domestic Val) merupakan tanaman yang sangat populer di Indonesia dan memiliki banyak kegunaan. Habitat asli tanaman rempah berwarna kuning ini meliputi wilayah Asia, khususnya Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami persebaran ke daerah Indo-Malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika. Hampir semua masakan di Indonesia dari dulu hingga sekarang memakai kunyit sebagai bumbunya. Misalnya masakan sejenis gulai dan nasi kuning.

Bahkan, bukan hanya dapat digunakan sebagai bumbu masakan, kunyit juga terkenal sebagai obat alternatif yang mampu bersaing dengan obat paten. Misalnya suplemen makanan dalam bentuk kapsul yang salah satu bahan bakunya adalah ekstrak kunyit. Salah satu senyawa yang terkandung dalam kunyit yaitu kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, desmetoksikumin dan bisdesmetoksikurkumin dan zat- zat lain terbukti berkhasiat obat. Kandungan lainnya, yaitu minyak atsiri berfungsi untuk pengobatan hepatitis, gangguan pencernaan, antioksidan, mengurangi resiko serangan jantung, menghambat perkembangan sel tumor payudara, diabetes melitus, tifus, usus buntu, disentri, perut mulas, haid tidak lancar, memperlancar ASI, dan lain-lain. Perasan air kunyit dapat juga dioleskan sebagai obat gatal dan anti kejang, atau diminum untuk mengurangi pembengkakan selaput lendir di mulut. Selain itu kunyit juga berkhasiat untuk melegakan hidung yang tersumbat, caranya dengan membakarnya dan menghirup uapnya.

Namun, hati-hati jika memasak menggunakan kunyit, karena warna kuningnya susah hilang jika terkena pakaian atau peralatan masak anda. Warna kuning pandan pada kunyit disebabkan oleh senyawa kurkuminoid. Zat warna ini juga sering digunakan sebagai pewarna tekstil dan berbagai kerajinan tangan. Seperti halnya tanaman kunyit, kami ingin koenjit juga meninggalkan ‘noda bandel’ dalam benak anda.

Bandung merupakan kota yang menarik dari segi budaya, musik, fashion, dan juga kulinernya. Banyak tempat makan dan menu yang menarik untuk dicoba di Bandung, sayangnya informasinya masih minim dan umumnya dari mulut ke mulut saja. koenjit adalah sebuah media yang fokus pada dunia wisata kuliner di Bandung yang dikemas dengan sisi yang berbeda. Tidak hanya seperti katalog yang menginformasikan tempat-tempat makan dan beragam menunya bagi anda, para penikmat wisata kuliner, koenjit juga mengangkat sisi lain dari makanan itu sendiri termasuk budaya, kesehatan, gaya hidup, lingkungan, sosial, fashion food, hingga insight yang ada di masyarakat. Seiring dengan itu, koenjit juga turut mengembangkan wisata kuliner Bandung. Visi kami adalah menjadi majalah yang paling dicari dan dinanti setiap edisinya karena mampu menjadi pedoman utama wisata kuliner di Bandung.

Selamat menikmati nikmatnya sebuah perjalanan rasa bersama kami!

Labels:

 
posted by Adisti Dini Indreswari at 7:36 PM | Permalink | 0 comments
Wednesday, January 16, 2008
Climate Change: Kita, Penyebabnya!

Kita mungkin merasa prihatin menyaksikan bencana-bencana yang menjadi headline di berbagai media akhir-akhir ini. Mulai dari banjir, kekeringan, gagal panen, terancam punahnya spesies tertentu, sampai wabah penyakit yang melanda manusia. Kita mungkin sudah sadar semua itu ada hubungannya dengan climate change (perubahan iklim) yang bukan cuma isu, tapi benar-benar terjadi di bumi kita ini. Tapi sadarkah kita bahwa kita sendirilah penyebab climate change itu?

Aktivitas industri

Perindustrian merupakan penyumbang GRK (Gas Rumah Kaca) terbesar di bumi. Sejak revolusi indutri pada abad ke 18, industri berkembang dengan sangat pesat. Sayangnya, hal ini sejalan dengan semakin menurunnya kualitas lingkungan.

Perusahaan-perusahaan
industri menggunakan bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, atau gas alam) dalam menghasilkan energi. Hasil sampingan dari pembakaran ini adalah GRK yang diemisikan ke udara. Ada enam gas yang termasuk kategori GRK, antara lain karbondioksida (CO2), dinitroksida (
N2O), metana (CH4), sulfurgeksafluorida (SF6), perfluorokarbon (PFCs), dan hidrofluorokarbon (HFCs). Pada awal revolusi industri, konsentrasi CO2 yang merupakan GRK terbanyak di atmosfer diperkirakan sekitar 280 ppm. Dengan laju peningkatan sebesar 0,4% per tahun selama 100 tahun ini, diperkirakan konsentrasi CO2 pada akhir tahun 2025 akan menjadi dua kali lipatnya. Jika dirata-rata, setiap orang di negara industri menghasilkan 3,2 ton gas CO2. Jumlah ini empat kali lipat dari yang rata-rata dihasilkan oleh orang di negara berkembang.

Berdasarkan Peraturan
Pemerintah no. 27 tahun 1999, semua aktivitas industri pada saat perencanaannya harus membuat AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). AMDAL digunakan untuk menyusun desain rinci teknis dari kegiatan. Namun kenyataannya, masih banyak terjadi pencemaran lingkungan. Berdasarkan data kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tahun 2006, dari 446 perusahaan industri
di Indonesia yang diteliti ada 72 perusahaan yang masuk kategori hitam dan 154 perusahaan yang masuk kategori merah karena mencemari lingkungan.

Transportasi

Transportasi merupakan penyumbang GRK terbesar kedua setelah perindustrian. Sama seperti aktivitas perindustrian, aktivitas transportasi juga menghasilkan GRK sebagai sampingan dari proses pembakarannya. Dari seluruh CO2 yang ditimbulkan oleh transportasi, 55% ditimbulkan oleh mobil pribadi, 26% oleh sepeda motor, dan 19% oleh kendaraan umum.

Kecenderungan
peningkatan jumlah penduduk di kota, yang terutama diakibatkan oleh urbanisasi, menyebabkan peningkatan mobilitas penduduk. Peningkatan mobilitas penduduk ini sayangnya tidak diimbangi oleh sarana dan prasarana tansportasi yang memadai. Di kota-kota besar di Indonesia, kemacetan atau angkutan umum yang ngetem sembarangan sudah menjadi pemandangan yang biasa. Padahal ini dapat memperburuk Efek Rumah Kaca. Penyebabnya adalah ketika mesin mobil dinyalakan dalam keadaan berhenti, mesin akan bekerja lebih keras daripada ketika mobil dijalankan, akibatnya semakin banyak CO2 yang diemisikan ke udara.
Konsumsi
emisi kendaraan bermotor sangat bergantung pada jenis bahan bakar dan kondisi pembakaran di dalam mesin. Mengandalkan Catalytic converter yang dapat mengurangi emisi per km tempuh kendaraan saja tidak cukup. Sebab jika jumlah kendaraan semakin banyak dan jarak tempuhnya juga jauh, emisi total akan tetap banyak. Rata-rata setiap kendaraan bermotor mengemisikan 3 ton CO2 per tahun.

Pembakaran Hutan dan Illegal Logging

Salah satu fungsi hutan adalah sebagai penyerap emisi GRK, atau biasa disebut carbon sink. Sejak Sekolah Dasar kita diajari bahwa pohon dapat menyerap CO2 dan menghasilkan O2 untuk respirasi makhluk hidup. Oleh karena itu penebangan hutan dan perubahan tata guna lahan (dari hutan menjadi bukan hutan) menyebabkan lepasnya sejumlah emisi GRK yang sebelumnya disimpan di dalam pohon.

Baru-baru ini Greenpeace meluncurkan peta satelit yang menunjukkan bahwa hutan-hutan di bumi berada dalam kondisi kritis. Area di bumi yang merupakan hutan kurang dari 10%. Seharusnya dengan luasnya kawasan hutan di Indonesia, yaitu sekitar 144 juta ha (tahun 2002), maka emisi GRK yang dapat diserap jumlahnya cukup banyak. Namun akibat pembakaran dan illegal logging (penebangan liar untuk kepentingan komersil), terjadi laju kerusakan hutan sekitar 2,2 juta ha per tahun. Akibatnya negara menderita kerugian finansial sebesar 1,2 trilyun per tahun. Tapi yang lebih penting adalah, climate change tidak dapat dikendalikan karena tidak ada cukup pohon untuk menyerap emisi GRK. Bahkan hutan juga menjadi penyumbang GRK, yaitu CO2 yang dihasilkan dari pembakaran hutan.


Bahkan
kegiatan sehari-hari kita yang mungkin dianggap sepele pun dapat melepaskan sejumlah emisi GRK ke atmosfer. Aktivitas yang menggunakan alat elektronik seperti menyalakan lampu, menonton televisi, menggunakan komputer, menyetrika pakaian, atau menyalakan AC menyumbang emisi CO2 ke udara. Pemakaian produk yang menggunakan aerosol dapat mengemisikan SF6, PFCs, dan HFCs. Begitu pula pembakaran sampah menghasilkan gas metana sebagai sampingannya.

Padahal,
kita sendiri jugalah yang akan merasakan dampak dari climate change ini. Jadi semuanya kembali ke diri kita. Apakah hanya akan berdiam diri atau mulai bertindak. Sebab merasa prihatin saja tidak cukup....

Labels:

 
posted by Adisti Dini Indreswari at 1:41 AM | Permalink | 0 comments
Tawa Ibu
Bagiku, di dunia ini tidak ada suara yang lebih merdu daripada suara tawa Ibu. Sejak masih jadi embrio di rahim Ibu, aku sudah sering mendengar suara tawanya. Tawa yang ceria, tapi juga hangat dan menenangkan hati. Aku bisa merasakan kalau ia mengelus-elus perutnya –tempatku meringkuk dalam kehangatan- sambil tertawa lembut. Kadang ia juga menyenandungkan lagu untukku, atau mengajakku bercakap-cakap, walaupun aku tidak mengerti sepatah kata pun yang diucapkannya. Yang aku mengerti hanyalah tawanya. Tawa yang mengalirkan kehangatan dan rasa nyaman ke dalam sel-sel tubuhku. Membuatku tidak sabar ingin segera lahir ke dunia, supaya bisa tahu seperti apa rupa wanita yang memiliki tawa yang begitu mengagumkan seperti ini.

Sebenarnya, masih ada satu suara tawa lagi yang melekat dalam memoriku. Tawa ini lebih dalam dan lebih berat. Tawa Ayah. Tapi tidak seperti tawa ibu, tawa Ayah terdengar kaku. Lagipula aku jarang sekali mendengarnya. Bagaimanapun juga, aku masih lebih menyukai tawa Ibu.

Aku berjanji, aku tidak akan pernah menyakiti dan mengecewakan wanita pemilik tawa ini.

***

Bagiku, di dunia ini tidak ada hal yang lebih indah dilihat daripada tawa Ibu. Kalau Ibu tertawa, matanya menyipit, tapi tetap memancarkan keramahan yang begitu besar. Lesung pipit di kedua pipinya terlihat jelas. Gigi depannya yang rapih mengintip malu-malu dari sela-sela kedua bibirnya.

Ibu sering sekali tertawa untukku. Saat melihatku bisa merangkak dan berjalan untuk pertama kalinya, Ibu tertawa. Saat membantuku mengenakan pakaian seragamku di hari pertama aku masuk TK, Ibu tertawa. Saat mengajariku naik sepeda, Ibu tertawa. Saat aku menunjukkan Raporku yang dipenuhi angka 9, Ibu tertawa. Saat aku menunjukkan gambar pemandangan yang kubuat, Ibu tertawa. Saat aku memenangkan lomba busana daerah atau lomba mewarnai, Ibu tertawa. Kami juga sering mengobrol dan melakukan banyak hal bersama layaknya dua orang sahabat, lalu tertawa bersama.

Ya, Ibu menghadapi semua hal dengan tawa. Walaupun Ayah sering kasar terhadapnya, Ibu cuma tertawa. Walaupun Ayah sering tidak pulang ke rumah, Ibu cuma tertawa. Tidak pernah sekali pun aku melihat air mata menetes dari matanya, atau raut murung di wajahnya. Yang ada cuma tawa.

“Ayahmu sibuk kerja cari uang, tapi nanti pasti pulang,” ujarnya setiap kali aku menanyakan keberadaan Ayah, sambil tersenyum dan tertawa lembut padaku.

Aku berjanji, aku tidak akan pernah menyakiti dan mengecewakan wanita pemilik tawa ini.

***

Sudah beberapa tahun terakhir ini Ayah tidak pernah pulang ke rumah. Aku tidak ingat berapa lama tepatnya. Rasanya aku bahkan sudah lupa seperti apa wajah Ayah, karena Ibu telah menyingkirkan semua foto dan benda yang berhubungan dengannya dari rumah ini.

Sudah selama itu juga, aku tidak pernah lagi melihat atau mendengar tawa Ibu. Bahkan, sudah lama aku tidak mengobrol dengan Ibu. Ibu selalu pergi meninggalkanku di rumah pada sore hari dan pulang larut malam, dengan pakaian minim dan make-up menor. Pulang diantar lelaki yang berbeda dengan mobil yang berbeda setiap harinya. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya.

Yang aku tahu, kami tidak pernah kekurangan uang. Padahal Ayah tidak pernah mengirimi kami uang, dan sebelum ini Ibu cuma ibu rumah tangga biasa yang tidak punya penghasilan. Tapi aku bisa masuk SMA swasta bergengsi di kotaku. Kami tetap bisa tinggal di rumah besar kami. Dan Ibu bisa membeli beberapa stel baju bermerk dan make-up baru setiap minggunya.

Padahal aku tidak meminta semua uang dan harta ini. Aku cuma minta kehadiran Ibu di sisiku. Dan tawanya.

“Kamu jangan protes! Ibu lakukan ini semua buat kamu. Kalau tidak begini, kita mau makan apa? Semua ini gara-gara Ayahmu, laki-laki yang tidak bertanggung jawab!” makinya suatu dini hari ketika baru pulang ke rumah. Jalannya sempoyongan, bau alkohol tercium dari mulutnya.

Aku berjanji, aku tidak akan pernah menyakiti dan mengecewakan wanita ini, walaupun ia tidak pernah tertawa seperti dulu lagi.

***

Siang itu panas sekali. Sambil berjalan kaki, aku merasakan pakaian seragamku menempel di punggung karena keringat. Sesampainya di rumah, aku mendapati Ibu sedang berbicara di telepon. Aku cuma menangkap perkataannya sepotong-sepotong.

“Tolonglah saya… Saya lagi butuh uang… Masa sih Mas nggak mau lagi sama saya?… Memangnya Mas cari perempuan yang bagaimana?… Apa?… Yang masih bau kencur?…”

Aku menghampiri Ibu untuk mencium tangannya. Ketika melihatku, mata Ibu langsung melebar. Mulutnya membulat. Pembicaraannya di telepon terhenti. Ia terus menatapku dengan pandangan menilai.

Aku cuma bisa balas menatapnya dengan pandangan penuh tanya.

***


“Kamu kok lama banget sih? Ibu sudah nunggu kamu lho dari tadi.”

Tidak kusangka, Ibu menjemputku di sekolah. Satu hal yang tidak pernah dilakukannya lagi sejak aku lulus SD. Sejak Ayah pergi.

“Kamu jangan heran begitu dong. Kan nggak apa-apa sekali-kali Ibu jemput kamu. Ayo, kita pergi!”

Aku berjalan mengikuti langkah Ibu yang pendek-pendek tapi cepat. Kami menuju sebuah sedan mewah bercat hitam yang terparkir di depan gerbang sekolahku.

“Memangnya kita mau ke mana, Bu? Ini mobil siapa?”

“Sudah, kamu nggak usah banyak tanya. Pokoknya kita bakal dapat uang banyak hari ini.”

Aku mengikuti Ibu masuk ke mobil itu dan duduk di jok belakang. Di balik kemudi, duduk seorang laki-laki entah siapa. Sepertinya dia sebaya dengan Ayah. Laki-laki itu memutar tubuhnya untuk melihatku. Lalu dia tersenyum padaku. Ada sesuatu yang aku tidak suka pada laki-laki ini. Senyumnya lebih seperti seringai, dan pandangan matanya liar, seperti serigala yang siap menerkam mangsanya.

Lalu dia mulai menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan dia terus melirikku dari spion. Aku tidak tahu kami mau dibawa ke mana, tapi sepertinya Ibu tenang-tenang saja. Bahkan, beberapa kali Ibu terkikik-kikik genit pada laki-laki itu.

Mobil yang kami naiki memasuki tempat parkir sebuah hotel berbintang lima. Aku dan Ibu turun di depan lobi.

“Kami naik duluan ya. Saya siapkan dulu semuanya,” Ibu berkata pada laki-laki itu.

Aku terus mengikuti Ibu seperti anak anjing mengikuti majikannya. Kami masuk ke salah satu kamar setelah meminta kunci dari resepsionis. Lalu aku duduk di sofa. Ini hotel berbintang lima, dan mungkin ini salah satu kamar terbaiknya, tapi entah kenapa segala sesuatu yang ada di sini membuatku merasa tidak nyaman, mulai dari lampunya yang terlalu terang sampai sofanya yang terlalu empuk.

Lalu Ibu memberiku minuman entah apa. Minuman itu tidak enak rasanya. Tapi Ibu terus memaksaku meminumnya sampai habis. Pandanganku mulai kabur dan kepalaku mulai terasa nanar.

Aku merasakan laki-laki itu memasuki kamar dan menghampiriku.

Ibu, tolong aku... Aku ingin berteriak memanggil Ibu, tapi rasanya kerongkonganku terlalu lemah untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Pandanganku makin kabur dan kepalaku makin terasa nanar. Ingatanku melayang ke saat-saat Ibu masih sering tertawa untukku.

Laki-laki itu merengkuh tubuhku.
Ibu tertawa saat melihatku bisa merangkak dan berjalan untuk pertama kalinya.
Laki-laki itu mengendongku ke ranjang.
Ibu tertawa saat membantuku mengenakan pakaian seragamku di hari pertama aku masuk TK.
Laki-laki itu membaringkan tubuhku di atas ranjang yang empuk.
Ibu tertawa saat mengajariku naik sepeda.
Laki-laki itu membuka bajuku satu per satu.
Ibu tertawa saat aku menunjukkan Raporku yang dipenuhi angka 9.
Laki-laki itu lalu membuka bajunya sendiri.
Ibu tertawa saat aku menunjukkan gambar pemandangan yang kubuat.
Laki-laki itu itu naik ke atas ranjang.
Ibu tertawa saat aku memenangkan lomba busana daerah atau lomba mewarnai.
Aku tidak ingat apa-apa lagi.

***

Saat aku terbangun, laki-laki itu sudah tidak ada. Tubuhku hanya dibalut selimut hotel. Pakaian seragam putih-abuku tercecer di sisi ranjang. Kepalaku masih terasa nanar dan badanku seperti mati rasa.

Ibu duduk di sofa. Di tangannya tergenggam sebotol minuman yang berbuih-buih. Tangannya yang lain mengibas-ngibaskan beberapa lembar seratus ribuan. Matanya berkilat-kilat.

Lalu… ia tertawa. Tawa yang sudah lama tidak aku lihat. Tawa yang sudah lama tidak aku dengar. Tapi kali ini tawanya terlalu nyaring, terlalu mengintimidasi, dan terlalu seperti dibuat-buat. Ini bukan tawa Ibu.

Kepalaku mau pecah rasanya!

28 September 2006, 11:03 p.m.

* Cerpen ini kubuat berdasarkan request V-man, seorang teman yang suka bikin film. Waktu itu dia mau bikin film dengan tema ‘jatuh/terjatuh/menjatuhkan/dijatuhkan/pokoknya semua pengembangan kata jatuh deh’, dan dia minta aku bikin ceritanya. Lalu aku pikir, di antara semua pengembangan kata ‘jatuh’ itu, yang paling ngena adalah ‘dijatuhkan’, dan akan semakin ngena lagi kalau dijatuhkannya sama orang yang paling kita sayangi dan kagumi. Biasanya, yang paling disayangi dan dikagumi orang adalah ibunya. Lalu terciptalah tokoh anonim ini, seorang remaja cewek yang masih polos yang sangat menyayangi dan mengagumi ibunya, tapi dia dijatuhkan (dalam hal ini dijerumuskan) sama ibunya sendiri.

Akhirnya, film ini selesai dibuat pada awal 2007. Sedikit kecewa waktu lihat hasilnya karena banyak perubahan di sana-sini, inti ceritanya jadi nggak dapet lagi! Tapi bangga juga ada yang mau susah-susah memvisualisasikan cerita yang kutulis.

Pernah ada yang berkomentar, cerpen ini ‘Djenar Maesa Ayu banget’. Sama sekali nggak ada maksud buat meniru dia, but yes, she’s one of my favorite writer, I really adore her works, so of course I got influenced a lot by her.

Labels:

 
posted by Adisti Dini Indreswari at 1:28 AM | Permalink | 0 comments
Tuesday, January 15, 2008
LPM ITB, Production Housenya ITB
Tidak banyak yang tahu, di Gedung TVST ITB Lantai 2 terdapat sebuah studio. Ukurannya sekitar 5 x 8 m, dilapisi karpet warna biru dan berdinding putih. Peralatan yang ada di sana cukup lengkap, antara lain 3 buah kamera 3CCD, mixer video 4 channel plus monitornya, mixer audio, komputer grafis, clip on, touch screen infocus, peralatan lighting, dan lain–lain. Di luar studio, Primus nampak sedang asyik mengedit film di komputer. Dialah yang menjabat sebagai Koordinator LPM (Layanan Produksi Multimedia) ITB, pemilik studio itu.

Wajar saja kalau banyak yang belum tahu tentang LPM ITB, karena unit ini baru berdiri pada bulan Juli 2007 atas kerjasama USDI (Unt Sumber Daya Informasi) dan TVST (Televisi Saluran Terbuka) ITB. Adalah Hendi, Primus, dan Sahala yang menjadi pionir didirikannya LPM. “Sudah saatnya di ITB ada unit produksi khusus servis multimedia dan audio visual,” kata Primus yang merupakan alumni Teknik Elektro ITB. “Kebutuhan sudah banyak, tapi dari ITB belum ada yang menyediakan, biasanya dikerjakan oleh mahasiswa.”

Kebanyakan anggota LPM adalah alumni ITB yang saat kuliah bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa yang berkaitan dengan audio visual, yaitu LFM (Liga Film Mahasiswa) dan GTV (Ganesha TV). Hendi Wahyu yang menjabat sebagai Manajer LPM adalah pendiri GTV pada tahun 2000, sedangkan Sahala adalah anggota LFM. Primus sendiri mengaku, walaupun tidak pernah secara resmi bergabung dengan kedua unit tersebut, tapi sering diajak bekerja sama. Anggota resmi yang terikat kontrak ada 9 orang, biasanya kalau ada proyek barulah LPM melakukan outsourcing.

Konsep LPM sendiri sebenarnya sudah ada sejak lama. TVST yang sekarang lebih dikenal sebagai gedung kuliah umum di ITB dulu digunakan untuk kuliah jarak jauh dan tele conference. Ruangan studio itu pun sudah ada sejak tahun 1979. “Clipperboard itu sudah ada 30 tahun lho,” kata Primus sambil menunjuk sebuah clipperboard di sudut studio.

Kegiatan rutin LPM adalah mendokumentasikan kegiatan–kegiatan ITB, tentunya dengan angle dan editing yang bagus layaknya production house profesional. Sampai saat ini masih dibangun sistem untuk meng–upload hasil dokumentasi itu di website dan bisa diakses oleh semua orang, jadi semacam digital library. Studio digunakan untuk membuat company profile dan voice over kuliah jarak jauh. “Studio di semua stasiun TV Bandung nggak ada yang ngalahin studio ini,” kata Primus, bangga. Kadang LPM juga menerima proyek membuat berbagai film atau dokumentasi di luar ITB. “Paling seru waktu meliput debat calon Ketua Ikatan Alumni ITB di Gedung Sate, bisa mindah–mindahin furnitur dan ngatur Gubernur biar dapat angle yang bagus,” katanya lagi.

“Sukanya kalau orang mengerti nilai suatu dokumentasi,” jawab Primus ketika ditanya suka–dukanya bekerja di LPM. “Kaset kosong itu harganya cuma Rp. 35.000,00, tapi kalau sudah ada isinya jadi nggak ternilai.” Untuk dokumentasi sehari penuh, LPM mematok harga Rp. 8 juta. Sedangkan dukanya, “Kalau kami dibilang kemahalan dan cari untung, padahal satu set kamera itu harganya sudah Rp. 50 jutaan.”

Walaupun latar belakang pendidikannya bukan broadcasting, Primus mengaku senang bekerja di LPM. “Ini wadah saya untuk kreatif,” katanya sambil menceritakan gol besar LPM, yaitu menjadi sumber segala hal yang berkaitan dengan multimedia di ITB dan bisa diakses oleh semua orang.

Labels:

 
posted by Adisti Dini Indreswari at 6:13 PM | Permalink | 0 comments
Thursday, November 15, 2007
Ahli Sampah Indonesia: Prof. Enri Damanhuri
Sampai sekarang, pengelolaan sampah di Indonesia masih menggunakan paradigma lama: kumpul-angkut-buang. Source reduction (reduksi mulai dari sumbernya) atau pemilahan sampah tidak pernah berjalan dengan baik. Meskipun telah ada upaya pengomposan dan daur ulang, tapi masih terbatas dan tidak sustainable. Pembakaran sampah dengan insinerator pun dianggap hanya memindahkan masalah ke pencemaran udara.

Sampah, topik yang kurang populer bagi sebagian besar orang ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Prof. Enri Damanhuri. Setelah lulus dari Jurusan Teknik Penyehatan (sekarang Teknik Lingkungan-red) ITB tahun 1975 dan meyelesaikan pendidikan S2 dan S3-nya dari Univesitas Paris VII, Perancis dalam bidang Kimia Pencemaran, beliau bekerja sebagai dosen di Program Studi Teknik Lingkungan ITB sejak tahun 1976. Saat ini, beliau menjabat Ketua KK (Kelompok Keahlian) Pengelolaan Udara dan Limbah di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB.

KK merupakan ujung tombak dalam pengembangan ITB sebagai perguruan tinggi yang berbasis penelitian. Tadinya, KK Pengelolaan Udara dan KK Pengelolaan Limbah berjalan sendiri-sendiri. Baru saat diberlakukan peraturan yang mengharuskan setiap KK memiliki minimal 8 orang anggota pada tahun 2006, kedua KK itu mengalami merger. Padahal, pengelolaan udara dan limbah adalah dua hal yang sangat berbeda. "Tapi ada juga titik temunya, yaitu perubahan iklim," kata Pak Enri.

Berawal dari ketidaksengajaan
Semuanya berawal dari ketidaksengajaan. "Waktu saya masuk ITB (tahun1969-red), orangtua jaman dulu kan inginnya anaknya masuk kedokteran, jadi saya memilih Jurusan Teknik Penyehatan karena saya kira itu membuat alat-alat kedokteran," kenangnya. Karena merasa salah jurusan, satu-dua tahun pertama di ITB beliau masih mencoba-coba mengikuti seleksi di perguruan tinggi lain. Pada tahun keduanya di ITB, beliau bahkan pernah mendobel kuliah di Farmasi Unpad. Barulah setelah tahun ketiga beliau bisa merasa menikmati perkuliahan di Teknik Penyehatan dan akhirnya memutuskan untuk terus menekuni dunia itu.

"Dari dulu saya sampah," katanya. Maksudnya, dari dulu beliau sudah memilih sampah sebagai spesialisasinya. "Dulu orang-orang biasanya tertarik pada pengelolaan air minum atau air buangan, tidak ada yang memilih sampah. Karena itu sebelum saya berangkat ke Perancis untukmengambil S2 dan S3 saya berpikir, harus ada yang mengisi kekosongan ini." Pak Enri menjadi doktor pertama di Indonesia yang bergerak di bidang persampahan. Bersama Dr. Tri Padmi, istrinya yang juga dosen di Teknik Lingkungan ITB dan anggota KK yang sama, beliau mendirikan Laboratorium Persampahan (sekarang Laboratorium Buangan Padat danB3-red) di ITB, yang merupakan laboratorium sampah yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dalam skala perguruan tinggi.

Menjadi dosen pun berawal dari ketidaksengajaan. Tahun pertama setelah lulus dari ITB, beliau sempat bekerja sebagai konsultan. Pekerjaannya itu mengharuskannya sering ke kampus. Karena itu, beliau iseng-iseng mendaftar menjadi asisten beberapa mata kuliah. Setelah merasakan senangnya mengajar, setahun kemudian beliau mendaftar menjadi dosen. "Yang menarik dari menjadi dosen adalah selalu ada kesempatan untuk belajar," katanya. "Selain itu selalu ada orang baru, jadi banyak kenalan di mana-mana. Setelah mahasiswa saya lulus kan jadi partner kerja saya." Sampai sekarang, sudah 31 tahun beliau mengajar di ITB.

Teknologi Pengelolaan Sampah
Pengelolaan sampah yang ideal adalah sedekat mungkin dengan sumbernya. Berangkat dari konsep itu, Pak Enri menjadi pelopor didirikannya PPS (Pusat Pengolah Sampah) ITB yang berlokasi di pojok Sabuga (Sasana Budaya Ganesha) pada tahun 2006. Sejak ada PPS ITB, ITB bisa mengelola sendiri sampahnya dan tidak perlu lagi bergantung pada Dinas Kebersihan.
"Waktu itu saya sedang wawancara di sebuah radio, ada yang bertanya, "ITB punya PPS sendiri nggak?" Setelah itu saya langsung menelepon LAPI, "Punya uang nggak? Ayo kita buat PPS!"" kisahnya.

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah yang sedang marak dibicarakan akhir-akhir ini, menurut Pak Enri bukanlah hal yang baru. Sampah memang merupakan sumber energi, dari panas yang dihasilkannya pada proses pembakaran. Konsep ini dikenal dengan istilah waste to energy. "Teknologi pengolahan sampah itu sebenarnya banyak sekali, dari mulai yang paling murah sampai yang paling mahal. Yang sulit adalah merubah perilaku manusianya. Nah, yang ini bukan tugas ITB," katanya. Perilaku manusia yang beliau maksud tentu saja adalah perilaku seenaknya dalam mengelola sampah, termasuk yang paling parah adalah membuang sampahsembarangan.

"Cita-cita saya, di Bandung ada instalasi pengelolaan sampah yang benar-benar bagus," katanya. Saat ini, selain mengajar Pak Enri juga membuat berbagai standar nasional untuk TPA atau proses pengelolaan sampah. Beberapa di antaranya bahkan digunakan secara internasional.

Cinta Keluarga
Saat tidak sedang 'mengurus sampah', Pak Enri selalu menghabiskan waktu luangnya bersama keluarga. Sekedar kumpul di rumah, atau jalan kaki bersama. "Saya ini orangnya nggak neko-neko," katanya. Anak pertamanya sudah bekerja dan berkeluarga, sedangkan anak keduanya masih kuliah di ITB.

Labels:

 
posted by Adisti Dini Indreswari at 5:16 PM | Permalink | 0 comments
Mereka yang Ikut Merasakan Euforia Wisuda
Raut bahagia terpancar jelas di muka Ny. Dian Sabtu (27/10) kemarin. Jelas saja, putrinya, Adyati Pradini Yudison (Teknik Lingkungan 2003) baru diwisuda. "Senang, terharu, semuanya campur aduk jadi satu," kisahnya. "Maklum, dia anak pertama. Senang rasanya bisa membimbingsampai sini."

Ny. Dian tidak sendirian. Hari itu ada sekitar 1.300 wisudawan lain yang melepas statusnya sebagai mahasiswa. Seperti yang selalu terjadi setiap wisuda, Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) dipenuhi oleh keluarga para wisudawan. Tidak sedikit yang sengaja datang jauh-jauh dari luar kota hanya untuk menyaksikan putra/putri mereka diwisuda. Di luar gedung Sabuga, massa himpunan sudah menyambut untuk siap-siap mengarak para wisudawan. Kegembiraan terasa di mana-mana. Sebuah euforia.

Tidak heran jika momen yang hanya terjadi tiga kali setahun ini dimanfaatkan oleh sejumlah orang yang ingin meraih keuntungan. Setiap ada wisuda, pedagang berbagai jenis barang dan jasa tumpah ruah di sekitar Sabuga. Mulai dari aneka makanan dan minuman, mainan anak-anak, bunga, coklat, tas, sepatu, aksesoris, obat, alat tulis, jasa foto, bahkan pengamen.

Salah satunya adalah Pak Udin (39), tukang foto keliling. Dengan kamera polaroidnya, ia berkeliling Sabuga untuk mengabadikan gambar para wisudawan dan berharap mereka akan membelinya. Pak Udin mengaku ikut senang kalau ada wisuda di ITB. "Daya beli ITB lebih bagus daripada tempat lain," katanya. Dalam sehari, ia bisa mengantongi sekitar Rp.150.000,00. "Sebenernya dulu bisa dapet lebih banyak, sayang sekarang udah nggak boleh masuk gedung lagi," keluhnya. Ada juga Bu Lina (35).Bertangkai-tangkai bunga berwarna-warni menarik tertata dengan apik di keranjang di hadapannya. Satu tangkainya dihargai Rp.10.000,00. Biasanya Bu Lina berjualan bunga di sepanjang Jl. Dago setiap malam minggu, atau kalau ada momen tertentu, misalnya Hari Valentine. Momen wisuda selalu ia tunggu-tunggu karena bunga dagangannya bisa laku lebih banyak dibandingkan biasanya, walaupun peningkatan penghasilannya tidak terlalu jauh. "Paling cuma dapet Rp.50.000,00 sehari, sekarang udah banyak saingan sih," katanya sembari tersenyum kecut. "Padahal bunga-bunga ini kalau nggak laku harus dibuang." Baik Pak Udin maupun Bu Rina mengaku sudah sekitar 3 tahun berjualan di Sabuga setiap ada wisuda.

Ya, saingan memang akan terus bertambah dari tahun ke tahun, pedagang-pedagang baru akan berdatangan dengan sendirinya. Contohnya Pak Jajang (37). Sehari-hari, dia berjualan bakso tahu di sekitar Kebun Binatang Bandung. Inilah pertama kalinya dia mangkal di Sabuga. "Saya denger dari temen saya, katanya kalau wisuda rame. Alhamdulillah, dari tadi laku," katanya sumringah. "Saya juga jadi ikut senang lihat mahasiswa-mahasiswa yang baru diwisuda," tambahnya. Selain itu, ada juga Pak Andi (29), yang membuat coklat yang cukup unik dan tidak akan ditemui di tempat lain, yaitu coklat dengan logo Ganesha. Pak Andi memang sedang mengembangkan bisnis coklatnya. Karena belum punya counter sendiri, coklat-coklat buatannya biasanya dititipkan atau dijual saat pameran. Tapi untuk berjualan saat wisuda ITB di Sabuga, ini adalah kali pertamanya. "Saya bukan sekedar jualan, tapi juga supaya perusahaan saya ini eksis," katanya. Pak Andi kebetulan adalah alumni ITB.

Namun, di antara mereka semua, yang mendapatkan tambahan penghasilan yang paling drastis mungkin adalah Pak Rohman (31) dan Pak Yusep (25). Sehari-hari mereka tidak memiliki pekerjaan tetap. Siang itu, mereka nampak sibuk mengarahkan mobil-mobil yang hendak keluar masuk Sabuga. Mulai dari memberi aba-aba, menggeser-geser mobil, sampai mengganjel ban dengan batu. Lelah dan panas sudah tidak dirasakan lagi. Pak Rohman dan Pak Yusep bukan tukang parkir resmi dari ITB, mereka berinisiatif sendiri datang ke Sabuga. Oleh karena itu, tarif parkir pun tidak dipatok, seikhlasnya pemilik kendaraan saja. Dalam sehari, mereka bisa mengantongi Rp. 20.000,00-30.000,00. "Lumayan lah, daripada nggak makan sama sekali," kata mereka. Di seluruh areal parkir Sabuga, ada sekitar 15 tukang parkir seperti mereka.

Sama seperti para wisudawan dan keluarganya, mereka juga ikut merasakan euforia untuk sehari. Setelah itu, dengan status yang sudah bukan lagi mahasiswa, tanggung jawab yang lebih besar menunggu para wisudawan. Para pedagang itu pun harus mulai lagi memeras otak untuk mendatangkan tambahan penghasilan untuk kelangsungan hidupnya. "Sering-sering aja lah wisudanya, ha... ha..." kata Pak Rohman dan Pak Romzi, kompak.

Labels:

 
posted by Adisti Dini Indreswari at 5:06 PM | Permalink | 0 comments